A Strage Message
“Jadi, kau akan mengajukan cuti untuk satu minggu?” tanya Shasi sambil menatap gadis di hadapannya.
Zola tampak tidak fokus sama sekali. Dia mengabaikan pertanyaan dari atasan langsungnya itu. Benaknya dipenuhi oleh berbagai hal yang sudah mengganggunya sejak pertemuan tidak jadi dengan Joe dan ibunya.
Sudah beberapa hari berlalu dan Zola belum berniat untuk menghubungi Joe yang tiada hari tanpa mengirim pesan dan menelepon. Gadis itu mengabaikan kekasihnya. Dia membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya sebelum bisa menerima semua keputusan tentang masa depannya.
“Zola,” panggil Shasi.
“Ya, Mam?”
Shashi menggeleng pelan. Dia menatap salah satu bawahannya yang cukup disukai penghuni panti.
“Ada apa? Kau bisa menceritakan semua hal kepadaku.”
Zola memandang Shasi penuh sayang. Benaknya justru melanglang buana ketika dia pertama kali bertemu dengan perempuan ini. Satu-satunya yang tiada henti menanyakan kabar, ketika dunia terasa berhenti untuknya.
Zola bahkan mengikuti jejaknya menjadi relawan bagi CWSA (Child Welfare South Africa). Sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam kesejahteraan anak. Sementara itu pekerjaan purnawaktu Zola tidak jauh dari pekerjaan Shasi, sebagai perawat di salah satu panti jompo di Johannesburg.
“Bukankah kau sengaja menyimpan jatah cutimu untuk persiapan pernikahanmu?”
Zola menggeleng pelan. Gerakan yang tentu saja mengundang tanya bagi Shasi. Wanita yang memasuki usia lima puluh tahun itu mengernyitkan mata, berusaha memahami apa maksud dari gelengan anak didiknya ini.
Zola menghembuskan napas sebelum kemudian berujar, “Apakah kau ingat dengan Stamboom?”
“Aku ingat kau pernah menyebutkan tentang hal itu, beberapa pekan lalu. Sesuatu tentang darah dan keturunan.”
“Ya. Semacam itu.”
“Lalu?”
“Beberapa hari yang lalu aku mendapat sebuah pesan dari Stamboom. Dia mengatakan menemukan seseorang yang berkaitan dengan keluargaku.”
Shasi menatap Zola tanpa berkedip. Wanita itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Zola. Tangannya merentang lebar lalu segera memeluknya. Dia mencium pipi Zola berulang kali.
“Sudahlah, aku malu,” bisik Zola yang membuat perempuan itu tertawa lebar.
“Aku tidak bisa untuk tidak memeluk dan menciummu, Sayang. Gadis kecilku kini menemukan kembali keluarganya.”
“Terima kasih, Shashi. Dan jangan pernah panggil aku gadis kecil lagi.” Zola membelalakkan matanya berusaha memperlihatkan raut wajah kesal.
Sekali lagi, perempuan yang dipanggil Shashi itu tertawa. “Sudahlah, beritahu aku info lengkapnya. Sebaiknya kita sekalian makan siang.”
Shashi kemudian menarik tangan perempuan muda yang sudah dianggap anak itu. Zola mengikutinya keluar dari ruangan Shasi. Sebuah ruang terbuka yang dirancang dengan konsep ruang kolaboratif. Meja-meja dan kursi-kursi yang fleksibel tersusun dengan rapi, menciptakan tempat yang nyaman untuk para lansia.
***
“Stamboom.co adalah sebuah perusahaan yang mengembangkan teknologi terkini dan salah satu proyeknya sangat membantu program Restoring Family Links,” jelas Zola mantap. Dia menatap Shasi. “Proyek DNA dari Stamboom.co inilah yang kuikuti. Aku sudah mengirimkan sampel darahku ke perusahaan ini.”
“Darah? Apa tidak berlebihan?” Shasi terlihat khawatir.
“Sebetulnya sampel yang diminta bisa apa saja. Seperti helai rambut atau cairan di dinding mulut. Jadi, aku mengirimkan ketiganya.”
Keduanya duduk di salah satu kursi yang ada di kantin panti jompo. Shasi mendengarkan kisah Zola dengan khidmat, sementara Zola bercerita sambil sesekali menatap dinding-dinding lobi yang dihiasi dengan mural mencolok dan inspiratif. Mural yang menggambarkan inovasi, kreativitas, dan semangat berani mencoba hal-hal baru. Warna-warna cerah dan motif yang unik mencerminkan keceriaan agar para lansia yang tinggal di panti jompo yang dikelola Shasi tidak merasakan kesuraman.
“Steamboom mengumpulkan beberapa sampel DNA yang tersebar di Afrika Selatan. Mereka bekerja sama juga dengan beberapa instansi pemerintahan. Sehingga pencocokan garis keturunan keluarga bisa dilakukan secara menyeluruh dan merata.”
“Lalu, pasti ada alasan khusus yang membuatmu akhirnya mengajukan cuti. Apa itu?” tanya Shasi.
Zola terdiam. Dia memilin jemari di kedua tangannya. Seharusnya ini lebih mudah untuk diucapkan daripada pengajuan izin cuti.
\"Setelah melakukan beberapa penelusuran lebih lanjut, mereka menemukan bahwa keluarga kandungku tinggal di distrik Boo-Kap!”
***
“Kenapa kau baru pulang?”
Zola mendongak dan mendapati tetangga apartemennya bersandar di anak tangga paling atas.
“Aku ada urusan setelah bekerja. Ada apa?” Zola merasa aneh jika tetangga yang tinggal di lantai atas apartemennya menunggu kepulangannya. Dia juga bukan tetangga yang akrab bagi Zola. Kakinya melangkah naik menuju apartemen yang sudah dia tinggali selama kurang lebih dua tahun terakhir.
“Apa kau sedang bertengkar dengan kekasihmu?”
Zola mengernyit heran, mendengar pertanyaan itu meluncur dari mulut tetangganya. Dia memperhatikan tetangganya bersandar sambil memainkan kukunya yang berwarna merah cerah terlihat terawat. Pandangan mata si tetangga terlihat asyik pada kukunya.
”Nie jou besigheid nie!”[1] Zola tidak bisa untuk tidak berkata kasar. Dia merasa terganggu dengan keingintahuan tetangganya itu.
“Ya, sudah. Aku hanya ingin memberitahumu. Kekasihmu sering kali mampir kemari di siang hari. Apakah dia tidak bekerja?”
Tangan Zola yang hendak memutar kunci berhenti. Dia benar-benar melupakan masalahnya dengan Joe. Pesan yang masuk ke ponselnya di hari Ma Tambo menolak Zola adalah pesan dari Stamboom. Saat gadis itu membaca pesan yang mengisyaratkan akan keberadaan keluarga kandungnya, Zola melupakan masalah antara Joe dan Ma Tambo.
“Aku memberitahu kekasihmu, kalau kau akan ada di rumah di akhir pekan.”
Zola menghela napas lalu berbalik dan berkata, “Terima kasih atas bantuanmu, Cariva.”
Pintu terbuka dan Zola segera masuk. Dia menutup pintu tanpa menatap wajah Cariba yang tampak penasaran. Zola segera bersandar pada pintu. Tubuhnya luruh ke lantai. Dengan semua yang sedang dia hadapi di Johannesburg, gadis itu tahu apa yang akan dia lakukan.
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Testing
testing ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Pacar Sewaan
Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...